Home » Berita » Selamat Jalan Eyang Habibie; Memoar Wartawan

Selamat Jalan Eyang Habibie; Memoar Wartawan

Malang, 14 September 2019 – Eyang Habibie telah meninggalkan kita semua, pun senyum manisnya dan kenangan akan inovasi dan gambaran seseorang yang cerdas. Pikirannya melompat-lompat. Seperti mulutnya tidak dapat mengimbangi isi pikirannya.

Wartawan senior Kafil Yamin meninggalkan memoar manisnya tentang Eyang yang dirangkum dalam tulisan dibawah:

SAYA beruntung sempat beberapa kali bertemu dan mewawancarai presiden ke-3 itu. Pikiran-pikirannya yang menginsipirasi, bukan hanya tentang teknologi pesawat terbang, tapi juga tentang kebangsaan dan keislaman, sangat membekas dalam ingatan saya.

Yang tak terlupakan tentu saja waktu peluncuran pesawat N-250 di Lapangan Terbang Husein Sastra Negara, Bandung. N-250, yang dijuluki si Gatotkaca, terbang gagah di hadapan para tamu agung dari dalam dan luar negeri.

Saya ikut konferensi persnya. Beberapa wartawan asing menyerangnya dengan pertanyaan menyudutkan: “Mengapa anda membuat pesawat terbang yang berbiaya tinggi sementara masih banyak anak-anak Indonesia yang tidak bisa sekolah?”

Tapi jawaban cerdas Habibie membungkam wartawan-wartawan media asing yang kurang senang melihat Indonesia ‘kurang ajar’ mengangkangi kemajuan teknologi mereka.

“Itu yang anda inginkan,” kata Habibie. “Sudahlah, kami mengurus pendidikan dasar anak-anak saja. Mengurusi pembangunan desa, infrastruktur sederhana, jangan jauh-jauh membuat pesawat terbang. Kalau kami mengikuti cara berpikir anda, Indonesia tak akan pernah bisa menyamai kemajuan negara anda.”

“Kami harus melompat langsung ke teknologi tinggi. Kami tak mau bodoh seperti yang anda mau,” katanya tegas.

Dan memang, Indonesia melompat ke teknologi tinggi kedirgantaraan. N-250 ketika itu, adalah yang tercanggih di kelasnya. Sangat cocok untuk Indonesia yang berbentuk kepulauan. Pesawat berukuran sedang yang fleksibel bisa hinggap dari pulau ke pulau. Masih banyak kota-kota di Indonesia yang belum bisa dihinggapi pesawat terbang, karena pesawat yang ada rata-rata buatan Eropa yang berukuran besar yang susah mendarat di lapangan-lapangan terbang kecil..

Dengan kehadiran N-250, bahkan industri penerbangan Eropa pun terancam karena Eropa, yang luasannya tak jauh beda dengan NKRI, lebih cocok dilayani pesawat-pesawat berukuran sedang seperti N-250.

Prestasi Habibie yang lain yang harus dicatat adalah keberhasilannya mendongkrak rupiah dari 14 ribu per dolar AS ke enam ribu per dolar AS. Sebelum mencapai tingkat itu, Sri Mulyani, waktu itu pengamat ekonomi, menyerang Habibie dengan nyinyir, menjuluki Habiie sebagai ‘keras kepala’, karena nilai rupiah yang lemah.

Ketika rupiah menguat drastis, 6 ribu terhadap dolar, hanya dalam waktu tiga bulan, pengamat yang kini menteri keuangan terbaik itu berdalih-dalih bahwa nilai itu bisa dicapai dengan biaya tinggi.

Sekarang, dibawah kekuasaan menteri ekonomi terbaik itu, rupiah terpuruk iya, biaya tinggi iya, ngutang habis-habisan iya, naikin iuran BPJS iya.

Habibie menurunkan nilai tukar dolar AS sampai ke 6 ribu rupiah tanpa ngutang dan ngemis-ngemis ke Bank Dunia dan IMF.

SELEPAS lulus dari Technische Hochschule Aachen (RWTH Aachen University), Jerman, Habibie banyak menerima tawaran kerja, dengan peluang karir dan gaji di atas rata-rata karena dia lulus dengan nilai sangat memuaskan. Semuanya dia tolak.

Satu-satunya tawaran kerja yang dia terima adalah sebagai penasihat desain di perusahaan kereta api Waggonfabrik Talbot. Tapi ketika kepala bagian konstruksi menawarkan jabatannya, Habibie menolak.

Lelaki kelahiran Parepare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936 ini akhirnya menerima tawaran kerja di Messerschmitt-Bölkow-Blohm, Hamburg, di mana ia mengembangkan teori thermodinamika, konstruksi pesawat, dan aerodinamika. Teorinya ini sangat terkenal di kalangan indusriawan dan ilmuwan kedirgantaraan Jerman, bahkan dunia, sebagai ‘Habibie factor’. Dia kepala proyek dalam merancang pesawat Airbus A-300B. Atas kecemerlangan prestasinya, dia menjadi wakil presiden perusahaan tersebut pada tahun 1974.

Teorinya yang menjadi rujukan industri pesawat terbang dunia adalah tentag pola retakan [crack] badan pesawat. Ia dijuluki Mr Crack.

Singkat cerita, pada tahun itu, Presiden Soeharto sedang menggalakkan industrialisasi. Soeharto yang sudah mengenalnya sejak berusaia 14 tahun memintanya memimpin perusahaan strategis Industri Pesawat Terbang Nusantara [IPTN].

Dua tahun kemudian, dia diminta menjadi Menteri Riset dan Tekonologi, tanpa memninggalkan perannya di IPTN. Dengan demikian, tugas dan tanggungjawabnya menjadi lebih besar. Dia segera melihat Indonesia sangat ketinggalan di bidang industri dan teknologi.

Saya beberapa kali berjumpa dengannya. Pikiran umumnya tentang Indonesia adalah: Indonesia tak bisa bersikap ‘mengejar’ negara-negara maju, karena tidak akan berhasil. Jaraknya terlalu jauh. Indonesia tak bisa membangun secara bertahap: Teknologi dasar dulu, lalu teknologi menengah, lalu baru ke teknologi tinggi.

“Indonesia harus melompat ke tekonolgi tinggi. Dengan demikian, tekonolgi dasar dan menengahnya otomatis terkuasai lebih cepat,” katanya di berbagai kesempatan.

Omongannya itu dia buktikan dengan pembuatan pesawat turbo canggih N-250, yang sempat menimnbulkan rasa waswas industri pesawat terbang Eropa dan Amerika. Tapi karena berbagai perselingkuhan dan intrik politik pasca kejatuhan Soeharto, produksi N-250 tak berlanjut.

Di bawah Gus Dur, IPTN kemudian menjadi PTDI [Perusahaan Terbatas Dirgantara Indonesia], menjadi ‘kapling’ PDI-P. Dan bangkrut.

NAMA BJ Habibie sudah menjadi ‘confidentiality’ di universitas-universitas internasional. Ia mendorong para karyawan IPTN, mahasiswa, peneliti, untuk belajar ke luar negeri, tentu dengan beasiswa di bawah namanya. Ini masa-masa mudah sekolah ke luar negeri.

Tak lama kemudian, IPTN banjir pesanan pesawat. Awalnya dari negara-negara Asia, seperti Korea Selatan, India, Pakistan. Tapi selanjutnya dari negara-negara Eropa dan Amerika. Airbus 3001 itu rancangan Habibie.

Ternyata, Habibie tidak hanya piawai merancang pesawat, tapi juga kapal laut. Ia pun ‘menggarap’ PT PINDAD yang memproduksi pesawat militer dan senjata serta PT PAL yang memproduksi kapal laut.

IPTN menjadi salah satu ‘center of excellence’ dunia.

Indonesia, dengan TNI-nya yang kuat, semakin disegani bukan hanya di Asia, tapi juga di dunia. Masa-masa ini mengingatkan orang pada masa-masa Soekarno memimpin New Emerging Forces, “yang membuat kaum imperialis gemeter.” [Ucapan Soekarno].

Karena kecemerlangannya, Soeharto memberi kepercayaan besar kepada Habibie, yang kemudian mengangkatnya sebagai wakil presiden.

Tak banyak orang tau meski menghabiskan sebagian hidupnya di Jerman, Habibie membaca naskah-naskah sains klasik di mana peran para ilmuwan Muslim sangat penting dan menentukan dalam peradaban dunia modern. Ia ingin para ilmuwan Muslim kembali menjadi penggerak peradaban. Ia mendirikan ICMI [Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia]. Untuk menjadikan pikiran-pikiran ilmuwan Muslim tersebar di masyarakat, perlu media yang tak bias terhadap Islam. Ia kemudian mendirikan koran Republika.

Ia ingin Islam tidak melulu dicitrakan sebagai kekerasan dan radikalisme, tapi juga kecendikawanan. Ia membuktikannya.

Karena semakin signifikan dalam politik dan kekuasaan, tentu Habibie mendapat perlawanan kaum sekuler — dari dalam dan dari luar. Mereka itu adalah kaum yang alergi terhadap Islam. Masa-masa kepemimpinan Soeharto pun semakin condong kepada Islam.

Datanglah badai krisis moneter, yang merontokkan kekuasaan Orde Baru Soeharto. ‘Semangat reformasi’ dan ‘kebencian’ terhadap rejim Soeharto bercampur dan sulit dipilah-pisah. Pokoknya semua yang terkait dengan Soeharto adalah buruk dan harus dihancurkan.

Sepeninggal Habibie, IPTN yang tadinya menjadi pusat keunggulan bangsa menjadi kapling PDIP, dan bankrut. ICMI menjadi alat rendahan lobi politik. Terakhir bikin deklarasi dukungan dua periode kepada Jokowi. Republika masih bertahan — antara hidup dan mati.

Tanggal 21 1998, Soeharto mundur dan menyerahkan mandatnya kepada wakilnya, BJ Habibie.

Jadilah putra Parepare ini presiden Indonesia ke-3. Tugasnya sungguh berat. Ia naik ke tampuk kekuasaan tertinggi ketika negara dalam keadaan hancur. Ekonomi ambruk. Rakyat sedang terasuki sentimen anti-Soeharto, luka-luka akibat konflik horisontal masih perih, para penyangga kekuasaan Soeharto, antara lain para pentolan Golkar, DPR-MPR, media, berbalik jadi musuh. Dan Habibe dianggap satu paket dengan Soeharto.

Salah satu desakan berat padanya adalah tuntutan mengadili Soeharto atas berbagai pelanggaran HAM dan KKN [Korupsi, Kolusi dan Nepotisme], yang ia jawab itu proses hukum yang tak boleh ia intervensi. Ia memberkan wewenang sepenuhnya kepada Kejaksaan dan Pengadilan.

Ada dua lembaga negara yang ia pertahankan untuk tetap independen: Pengadilan dan Bank Indonesia. Selain itu, ia mencabut UUD Pers yang mensyaratkan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers [SIUPP]. Tidak ada lagi ancaman pembredelan.

Bangsa Indonesia pindah mendadak dari alam terkungkung kepada alam kebebasan. Kebanyakan tak siap mental. Orang-orang berani menghujat; berteriak, muncul para pengamat dadakan yang lebih mengutamakan urat leher ketimbang logika dan argumentasi. Media menjadi liar. Sikap berani mengkritisi pemerintah yang tadinya bernilai tinggi karena menghadapi risiko, kini jadi sikap pasaran, karena tak ada risiko dan siapapun boleh bicara.

Habibie mungkin ditakdirkan untuk menundukkan badai. Dengan kecerdasannya, ia membentuk kabinat dan tim kepresiden yang handal. Kebijakan-kebijakannya tidak merunduk-runduk kepada asing. Bersama jurubicaranya yang cerdas, Dewi Fortuna Anwar, reputasi Indonesia di dunia internasional berangsur membaik.

Di dalam negeri, kehidupan sosial dan ekonomi segera bangkit, bahkan berlari cepat ke depan. NIlai tukar rupiah melonjak dari Rp16,500 per dolar AS, menjadi Rp6,000 per dolar AS. Inflasi menurun drastis dari tingkat bencana, 75,4 persen, ke 2 persen. Semua itu ia capai hanya dalam waktu separuh tahun alias 6 bulan.

Tibalah masa sidang MPR-DPR, yang lebih merupakan formalitas ketimbang benar-benar sidang, karena begitu Soeharto mundur ia pun harus ikut mundur. Pidato pertanggungjawabannya di sidang MPR sangat meyakinkan, tapi sejak masuk ruangan sidang sudah diteriaki ‘huuuuu’, oleh para anggota DPR-MPR yang sering menyebut ‘kehormatan dewan’. Jauh dari terhormat. Pidato pertanggungjawaban Habibie ditolak.

Sentimen anti-Soeharto memunculkan Megawati Soekarnoputri. PDIP menang mayoritas. Tapi waktu itu belum ada pemilihan presiden langsung. Di sidang MPR, melalui poros tengah yang dipimpin Amien Rais, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur terpilih jadi Presiden Indonesia ke-4.

Dunia internasinal kaget. Majalah The Economist menurunkan judul utama: “Goodness, It’s Gus Dur [Astaga, Gus Dur]!” Ungkapan kekagetan; Kok Gus Dur?

[Masih berlanjut].

Print Friendly, PDF & Email

Check Also

PKS: Tembak di Tempat Peserta Unjuk Rasa Melanggar Konstitusi

JAKARTA, 3/11/2016 – Tembak di tempat peserta untuk rasa dinilai melanggar konstitusi. Sebab, unjuk rasa ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.